12"Keberanian tanpa kekuatan adalah kebodohan, Kepala Suku," kata Gahara dingin. "Dan aku tidak bodoh. Aku melihat siapa yang benar-benar memiliki kekuatan di pulau ini. Dengan bekerja sama dengan perampok, aku bisa memastikan Yaksa akan bertahan dan semakin jaya." Lanjutnya sambil tertawa dengan bangga.

"Kau tidak lebih dari pengkhianat!" bentak Ayunga menahan amarahnya.

Gahara menyeringai, mendekati Ayunga. "Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan, Ayunga. Kau adalah pria tua yang sudah tidak relevan. Kau tidak bisa lagi melindungi suku kita."

"Dan bagaimana dengan Jelita?" tanya Ayunga, matanya menyala penuh kemarahan. "Anakku, di mana dia? Apa kau yang menyerahkannya kepada perampok?"

Gahara pura-pura terkejut. "Jelita? Oh, Ayunga, kau benar-benar pandai menebak. Ya, aku yang mengirimkan dia ke sini."

"Apa?!" teriak Uban, wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Ayunga mencoba berdiri meskipun tubuhnya lemah. "Kau... Kau mengkhianati suku kita, dan kau berani menyentuh darah dagingku?"

"Aku sungguh tidak menduga jika kamu dalang dari semua ini." Uban berteriak marah.

"Dia terlalu banyak tahu," jawab Gahara santai. "Dia mendengar sesuatu yang tidak seharusnya dia dengar. Jadi, aku memutuskan untuk mengirimkan dia ke tempat di mana dia tidak akan menjadi masalah lagi."

"Kau tidak punya hati!" bentak Ayunga. "Dia adalah anakku! Kau menghancurkan keluargaku, suku kita, untuk apa?!"

Gahara mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari Ayunga. "Untuk memastikan aku bisa memimpin. Kalian terlalu lama memegang kendali. Sudah waktunya aku yang mengambil alih."

Uban, yang tetap tenang meskipun penuh amarah, berbicara dengan suara dingin. "Dan batu itu... Batu harta leluhur kita. Kau yang mencurinya, bukan?"

Gahara menatap Uban dengan senyum tipis. "Kau cepat menyadarinya, Kepala Suku. Ya, aku yang mencurinya. Batu itu adalah kunci untuk memastikan kerja samaku dengan perampok dan Monrest berjalan lancar. Dengan itu, aku punya nilai tawar yang lebih tinggi."

Gahara melanjutkan,"Bertahun-tahun suku Monrest berusaha mencari dan mendapatkan batu itu. Sungguh keberuntungan berpihak kepadaku. Ternyata batu itu ada di suku kita dan kamu tidak dapat memanfaatkannya dengan baik.

"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan," kata Uban dengan nada penuh kecewa. "Batu itu bukan hanya sekedar benda berharga. Itu adalah simbol warisan leluhur kita."

"Simbol? Warisan?" Gahara tertawa sinis. "Itu hanya batu yang bisa memantulkan cahaya. Kau terlalu banyak terjebak dalam tradisi lama, Uban. Dunia ini berubah, dan aku berubah bersama dunia."

"Kau menyedihkan," kata Ayunga, matanya penuh kebencian. "Batu itu tidak akan melindungimu dari kehancuran. Kau akan hancur oleh kebohongan dan pengkhianatanmu sendiri."

"Cukup dengan ceramah kalian!" bentak Gahara. "Kalian berdua tidak punya hak untuk berbicara seperti itu padaku. Kalian sudah kalah. Aku menang. Dan nasib kalian kini berada di tanganku."

Gahara melanjutkan"Apa kamu tahu siapa yang membocorkan rencana penyusupan kalian ke tempat ini? Orang itu adalah aku. Kalian masuk ke dalam perangkap kami" Katanya sambil tertawa.

"Kamu..." Uban tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena emosi. Dia tidak pernah menyangka, orang yang paling dipercayainya selama ini justru adalah orang yang menusuk mereka dari belakang, dan kini kehancuran suku Yaksa tinggal masalah waktu.

"Dasar pengkhianat!" Geram Ayunga dengan penuh amarah.

Kronar, yang sejak tadi diam, melangkah maju dengan senyum licik. "Kukira kau ingin membiarkan mereka hidup lebih lama, Gahara. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

Gahara memandang Kronar dengan tenang. "Biarkan mereka merasakan penghinaan ini lebih lama. Aku ingin mereka melihat bagaimana Yaksa akan bangkit di bawah kepemimpinanku. Setelah itu, baru kita habisi mereka."

"Rencana yang menarik," kata Kronar sambil tertawa kecil. "Tapi jangan terlalu lama. Aku punya rencana lain untuk mereka jika kau tidak segera memutuskan."

Keduanya meninggalkan ruangan, membiarkan Uban dan Ayunga terdiam dalam kemarahan dan kekecewaan. Di dalam hati mereka, dendam dan rasa sakit terus berkecamuk. Namun, mereka juga tahu, selama masih ada harapan, mereka tidak akan menyerah begitu saja.

Malam itu, dengan langkah senyap, Lynx mendekati pintu masuk lorong rahasia yang telah ditemukan oleh Darek dan teman-temannya. Ia memandangi mulut lorong itu dengan seksama, memastikan tidak ada tanda-tanda penjaga di sekitar. Setelah yakin, ia masuk dengan perlahan, cahaya bulan yang samar menjadi satu-satunya penerangan yang menuntunnya.

Lorong itu gelap dan lembab, dengan dinding batu yang terasa dingin di kedua sisi. Lynx bergerak dengan hati-hati, menghitung langkah dan menajamkan indra pendengarannya untuk memastikan ia tidak terjebak dalam bahaya yang tak terduga.

Ketika ia mendekati ujung lorong, suara langkah kaki dan percakapan samar mulai terdengar. Lynx menghentikan langkahnya, menempel pada dinding, dan menajamkan pendengarannya. Ia mengenali suara Gahara, yang licik dan dingin, serta suara berat pimpinan perampok, Kronar.

"Sepertinya rencanaku sudah jelas," kata Kronar dengan nada datar namun berwibawa. "Aku akan pergi besok siang untuk menemui pimpinan Monrest. Mereka sudah menunggu di tempat pertemuan."

Gahara tertawa pelan, wajahnya terlihat licik. "Kau pandai bermain, Kronar. Biarkan aku tetap di sini untuk menjaga perkampungan, sementara kau berurusan dengan Monrest."

Kronar melirik Gahara dengan pandangan tajam. "Ini bukan sekadar permainan, Gahara. Aku akan memastikan kita mendapat dukungan penuh dari Monrest. Kalau mereka setuju, kita tidak hanya akan mendapatkan penghormatan, tetapi juga perlindungan. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuh kita."

Gahara mengangguk, senyum kecil menghiasi wajahnya. "Tentu saja. Dan aku akan memastikan semuanya tetap terkendali di sini. Kepala suku dan tetua Yaksa itu... mereka adalah simbol kehancuran bagi suku mereka. Melihat mereka dalam kondisi seperti ini membuatku puas. Akhirnya, aku bisa menggantikan mereka dan membawa Yaksa ke arah yang lebih... menguntungkan."

"Seperti menguntungkan dirimu sendiri?" Kronar menyeringai.

"Semua pemimpin melakukan itu," jawab Gahara santai. "Tapi kau tak perlu khawatir. Aku tetap setia pada kesepakatan kita."

Kronar tertawa pelan. "Kau memang licik, Gahara. Aku suka itu. Tapi pastikan, selama aku pergi, tidak ada yang membuat keributan disini. Jika Lynx kembali, aku ingin kau menangani dia dengan caramu sendiri."

Gahara menyipitkan mata, kebencian muncul di wajahnya. "Lynx... Aku yakin dia akan datang lagi. Tapi kali ini, dia tidak akan punya jalan keluar. Kita akan membunuh semua tahanan itu jika dia berani melawan."

Kronar berdiri, meraih tombaknya. "Bagus. Aku akan pergi bersama beberapa orang terbaikku. Kau tahu apa yang harus dilakukan jika ada masalah."

Gahara mengangguk. "Tentu saja."

Setelah mendengar percakapan itu, Lynx segera menyelinap keluar melalui lorong rahasia. Ia bergerak cepat namun senyap, memastikan tidak ada yang menyadari kehadirannya.

Setelah keluar dari ujung lorong, ia menemukan Darek, Rafin, dan Ekar sedang menunggu dengan cemas.

"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" Tanya Darek segera setelah melihat Lynx datang.

"Apakah kamu berhasil memastikan bangunan dimana lorong ini mengarah? Tanya Rafin dengan cemas sambil memegang bahu Lynx.

Lynx menganggukkan kepala, sebersit senyum muncul di wajahnya."Lorong ini benar-benar luar biasa. Rencana yang kita buat kali ini pasti akan berhasil. Tapi sebelum itu kita harus segera kembali ke tempat Jelita untuk membahas rencana kita selanjutnya."

"Baiklah Lynx, aku sudah tidak sabar ingin mengetahui apa rencanamu untuk menolong mereka !" Kata Erka.

Lynx dan Darek beserta dua temannya segera kembali menuju tempat dimana Jelita mereka tinggalkan. Sepanjang perjalanan, Lynx berusaha mematangkan idenya agar bisa menyelamatkan seluruh tahanan.

Lynx menyadari, nasib para tahanan ada di tangannya. Dia tidak mau salah mengambil keputusan yang dapat beresiko bagi para tahanan.

Tidak berapa lama, rombongan Lynx telah tiba di tempat Jelita menunggu.

"Lynx!" seru Jelita, wajahnya penuh kekhawatiran. "Kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja," jawab Lynx singkat, matanya berkilat tajam. "Tapi aku membawa kabar penting."

Semua orang berkumpul lebih dekat, mendengarkan dengan seksama saat Lynx menjelaskan rencana Kronar untuk pergi menemui pimpinan Monrest besok siang bersama beberapa orang kepercayaannya. Lynx juga menceritakan mengenai salah satu suku Yaksa yang dia yakini sebagai pengkhianat

